bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Haruskah Semua Situs Di-AdSensenisasi?

AdSensenisasi situs. Frase ngawur ciptaan saya yang berarti, memasang AdSense di satu atau lebih situs. Atau me-monetize-kan satu atau lebih situs dengan AdSense. Saya tertarik untuk mengangkat topik ini karena, seperti dapat dilihat sendiri, dengan semakin meleknya pengguna internet, terkhusus pemilik situs atau blog, terhadap program Google AdSense, semakin banyak pula blog atau situs yang ditumpangi oleh unit iklan AdSense. Seolah berlomba, siapa yang paling banyak membuat situs ber-AdSense, dia lah yang meraih dolar paling banyak. Ah, tapi jangankan situs ecek-ecek, situs resmi pariwisata Indonesia cabang Bali saja memamerkan AdSense kok.

Hmmm, berarti benar dong Adsensenisasi pangkal kaya?
Sebenarnya tidak juga.

Pada kenyataannya, tidak semua situs atau blog cocok untuk dipasangi AdSense. Banyak faktor yang melatarbelakanginya. Seperti tema yang dipilih, desain atau layout halaman, hingga karakteristik pengunjung yang datang.

Yang lebih ngeri lagi adalah sesuatu hal yang disebut dengan “Smart Pricing“. Ini adalah penalti yang diberikan oleh Google AdSense dalam bentuk “penyesuaian” nilai klik (baca: pengurangan nilai CPC) pada suatu akun yang memasang AdSense di situs atau blog yang memiliki nilai konversi rendah. Konversi yang dimaksud di sini adalah konversi hasil bagi pemasang iklan. Untuk teknis penentuannya saya sendiri kurang tahu (karena memang tidak diberitahu oleh pihak Google), namun beberapa hal yang dapat dinalar sebagai penyebab konversi rendah antara lain:

* Terlalu banyak accidental click.

* Iklan yang muncul tidak sesuai dengan tema ataupun minat pengunjung, sehingga apabila ada klik sekalipun, pengunjung hanya akan melihat sekilas situs yang dituju kemudian undur diri.

* Jika yang diiklankan berupa produk atau keanggotaan berbayar, pengunjung datang melalui iklan yang bersangkutan namun tidak melakukan pembelian atau pendaftaran. Khusus untuk yang satu ini dapat dilacak melalui Google AdWords.

So, sebaiknya kita harus bijaksana dalam menentukan kapan suatu situs harus dipasangi AdSense dan kapan kita harus menggantungkan pendapatan dari sumber dana yang lain. Bukankah ladang penghasilan di internet tidak hanya berasal dari AdSense semata? Jangan sampai kita “memaksakan” diri untuk melakukan AdSensenisasi apabila ujung-ujungnya malah merugikan akun kita. Di-banned misalnya.

Kok bisa? Ya bisa saja. Misalnya dengan maju tak gentar memajang AdSense for Content di situs atau blog berbahasa Indonesia yang sudah jelas-jelas dilarang. Atau di situs atau blog yang isinya melanggar TOS. Kalau memang hobinya extreme sport alias suka menantang maut, ya silahkan saja. Apalagi kalau sudah punya persediaan banyak akun (seperti fans-nya Ayu Anjani ini), hehehe.

Kesimpulannya, hati-hati, jangan terlalu cinta dengan Google AdSense. Jangan terobsesi dan asal meng-AdSensenisasi. Ingat saja lagu lamanya Queen, “Too Much Love Will Kill You“.

http://www.cosaaranda.com/haruskah-semua-situs-di-adsensenisasi.htm
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris