bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Dua Hari Dikubur Hidup-hidup, Mengaku Murid Nabi Qidir !


Ini ada berita dari Jawa Timur yang dilansir oleh harian Surya: Seorang pemuda menjalani ritual dikubur dalam keadaan hidup, setelah ditanya polisi mengaku murid Nabi Qidir.

Ya, Buang Supriyono namanya. Umur 25 tahun. Di depan polisi, dia tampak seperti orang stres. Bicaranya ngelantur. Pemuda berperawakan sedang tersebut selama ini dikenal sebagai 'rang pintar' di desanya, Desa Kepuh Anyar, Mojoanyar, Kabupaten Mojokerto.

Saat itu Supriyono juga terlihat kepayahan. Maklum, dia baru saja menjalani ritual 'hidup dalam kubur' selama dua hari, sejak Selasa , di sebuah kuburan di TPU Dusun Damarsi, Kepuh Anyar.

Aksi Buang Supriyono mulai ketahuan Kamis pagi, demikian dilansir Surya, ketika kuburannya dibongkar polisi. Setelah dikeluarkan dari dalam kuburan, dia dilarikan keluarganya ke RSUD Kota Mojokerto, kemudian sorenya dibawa ke Mapolsek Mojoanyar.

Ketika diperiksa polisi, pemuda lajang yang mengenakan kaos hijau dan berkopiah ini tidak bisa menjawab dengan fokus. Akhirnya pemeriksaan dihentikan sementara, menunggu kondisi kejiwaannya stabil.

"Ketika ditanya petugas gurunya siapa, kok sampai menjalani ritual dengan cara dikubur, dia menjawab gurunya Nabi Qidir. Karena kondisinya masih labil, pemeriksaan terpaksa kami tunda," jelas AKP Sukarni, kapolsek Mojoanyar.

Di kantor polisi, saat itu Supriyono tampak makan nasi bungkus di kursi panjang ada di emperan depan. Wajahnya kelihatan segar setelah beberapa jam sebelumnya dirawat di Ruang Nusa Indah RSUD Kota Mojokerto.

Dia masuk rumah sakit sejak Kamis pagi, namun sekitar pukul 15:00 diambil paksa oleh keluarga. Setelah itu, Supriyono langsung dibawa ke mapolsek.

KUBURAN di TPU Dusun Damarsi, yang dipakai untuk mengubur Supriyono, menghebohkan warga sejak Selasa pagi. Makam misterius sepanjang dua meter di pojok bagian paling belakang itu ditemukan oleh juru kunci makam, Karnaku.

"Setelah menemukan makam itu saya langsung melapor ke kasun (kepala dusun, Red) dan diteruskan ke polsek. Kami tidak berani membongkarnya sebelum ada petugas yang datang," jelas Karnaku.

Sebagai juru kunci dia merasa kaget menemukan makam tersebut. Karena, sebelumnya tidak ada warga yang meninggal. Tahu-tahu, ketika dirinya akan mengecek air sawah dan melewati kompleks makam, ternyata sudah ada makam baru, lengkap dengan batu nisan dan sebuah kendi di atasnya.

Karnaku kemudian memberi tahu beberapa warga. Mereka semula sempat meragukan bahwa di dalam makam itu benar-benar ada mayatnya. Karena, liang lahatnya tampak kurang dalam. Batu nisan yang terbuat dari batu pun tidak ditancapkan dalam-dalam.

Di batu nisan itu tertempel secarik kertas yang tulisannya mulai mblobor karena terkena air hujan. Tulisan yang masih bisa dibaca berbunyi "Syeikh Achmad...syahid 20 Februari 2009."
"Jangan-jangan ini hanya pekerjaan orang yang cari sensasi. Soalnya zamannya sudah seperti ini. Ponari (dukun cilik di Jombang, yang mengobati dengan ‘batu ajaib', Red) saja, begitu dia muncul, banyak yang cari sensasi, kok," kata seorang berseragam pegawai negeri sipil (PNS) yang melihat makam itu.

Ketika keberadaan kuburan misterius ini dilaporkan ke Mapolsek Mojoanyar, polisi segera bertindak. Untuk merespons laporan masyarakat -sekaligus meredam keresahan- beberapa petugas Polsek Mojoanyar dibantu sejumlah warga pun membongkar makam tersebut.

Ternyata, di dalam makam memang ada orang, tetapi masih hidup. Dialah Buang Supriyono, yang sehari-hari tinggal rumah yang tidak terlalu jauh dari lokasi makam. Supriyono berada dalam makam dalam keadaan dikafani.

Kini, warga setempat menunggu hasil pemeriksaan polisi atas Supriyono. Namun karena hingga Kamis sore Supriyono masih stres, maka polisi juga belum bisa menyimpulkan apakah yang dilakukan dengan dikubur hidup-hidup itu Cuma untuk membuat sensasi ataukah memang demi menjalani lelaku...

http://www.kontekaja.com/article.php?id=3872&page=1
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris