bebas bayar, pembayaran mudah dan cepat, transaksi online, pembayaran tagihan dan tiket, transfer dana online

Memahami Digital Video DV Cam !

Digital video camera (DV camera) adalah cara terbaik untuk men-shoot home movies. Mutu gambarnya sangat baik, dan karena direkam secara digital, hasilnya dapat dengan mudah di-copy (di-capture) ke PC dan diedit dengan mudah.

Sepintas dv camera tampak serupa dengan analog camcoder. Ada lensa zoom, ada tombol-tombol untuk merekam dan memutar balik hasil rekaman, menyimpan video dalam cassette tape, serta dapat dilengkapi dengan mikrofon tambahan maupun tripod, serta dapat dihubungkan dengan perangkat lain seperti TV, video, dan komputer.

Namun antara DV camera dengan analog camcoder terdapat perbedaan-perbedaan penting:

* Gambar lebih tajam: DV camera memberikan resolusi horizontal dua kali lebih banyak daripada analogue camcorder.

* Suara lebih baik: secara umum suara dari DV camera dbandingkan dengan suara dari analogue camcorder seperti membandingkan suara dari audio cassette dengan suara dari audio CD.

* Perekaman lebih akurat, suatu DV camera menggunakan chip khusus yang disebut charge coupled device (CCD) untuk merekam apa yang ‘dilihat’ oleh lensa dan menyimpannya pada tape dalam bentuk digital 0 atau 1 serupa dengan cara komputer menyimpan data dalam hard disk. Hasilnya adalah perekaman yang jauh lebih akurat.

* Tidak ada degradasi: karena semuanya direkam secara digital, walaupun berkali-kali diputar maupun dipindahkan, mutunya sama sekali tidak berubah.

* Format yang sama: karena berupa data digital, sama seperti komputer, maka tidak terjadi proses konversi sewaktu dipindahkan dari kamera ke komputer. Dengan demikian, versi yang terdapat pada komputer akan sama mutunya dengan aslinya yang ada di kamera.

* Still photograph: DV camera model-model terakhir dapat mengambil foto digital dengan resolusi tinggi. DV camera dengan demikian berfungsi pula sebagai digital still camera.

Tape Storage
Analogue camcorder tipe-tipe VHS menyimpan hasil rekaman pada VHS cassette. Hl inilah yang menyebabkan ukuran VHS analogue camcoder jauh lebih besar. Format 8mm memungkinkan ukuran analog camcorder menjadi lebih kompak.

DV camcorder paling lazim menyimpan hasil rekaman pada MiniDV cassette yang ukurannya setara dengan audio cassette. Kini Sony keluar dengan MicroMV yang lebih kecil lagi. Perbandingan ukuran VHS cassette tape, MiniDV, dan MicroMV.

Disk Storage
Hitachi memperkenalkan media penyimpanan berbentuk disk sejak tahun 2001, yang memungkinkan random access storage dengan seri DVD Cam-nya.

Media yang digunakan secara fisik serupa dengan CD berukuran 8 cm, namun untuk digunakan dalam DVD Cam perlu ditempatkan dalam caddydan/atau cartridge. Ada dua jenis disk yang digunakan, yaitu DVD-RAM yang bersifat ReWriteable dan DVD-R yang bersifat once-writable.
DVD-RAM tidak dapat dibaca oleh DVD Player (lagi pula mana mungkin memasukkan disk dengan caddy atau cartidge ke dalam DVD player, bukan?). DVD-R, sebaliknya, dapat dikeluarkan dari caddy-nya dan diputar pada DVD player. Untuk itu DVD-R yang berisi hasil rekaman harus di-finalize dulu.

Sony mengeluarkan juga DVD Cam dengan format saingan DVD-RAM dan DVD-R, yaitu yang dikenal dengan format DVD+RW dan DVD+R. Format terbaru ini tidak memerlukan caddy dan dapat dibaca langsung pada DVD player model-model terbaru. jenis DVD+R-nya pun tidak perlu di-finalizde untuk dapat diputar pada DVD player.

Digital video pada dasarnya adalah sederetan still image yang ditangkap dengan cepat secara berurutan dan disimpan dalam bentuk digital pada media penyimpanan. Karena dirancang agar dapat ditampilkan pada TV, maka digital camcoder perlu menciptakan gambar bergerak yang kompatibel dengan format televisi yang digunakan. Di Indonesia, Asia Tenggara pada umumnya, dan Inggris digunakan format PAL (Phase Alternate Line). Di AS digunakan format NTSC dan di Eropa dataran menggunakan format SECAM. Kini kebanyakan televisi tingkat atas sudah menyediakan fasilitas multi-system.

Agar kompatibel dengan PAL system, suatu DV camera perlu membentuk gambar bergerak dengan resolusi 720 kali 576 pixel pada kecepatan 25 frame (atau 50 field) per detik. Masalahnya mengubah data gambar awal ini ke bentuk digital memerlukan tempat yang tidak tertampung oleh tape, sehingga data ini harus dikompresi dulu. Kompresi ini yang membuat kerumitan dalam digital video.

Camcoder yang menggunakan MiniDV menggunakan video standard yang disebut DV (digital video). Kamera ini ini meng-capture kedua field dari suatu PAL frame secara terpisah, tetapi mengkombinasi keduanya menjadi satu frame. Namun, sebelumnya semua data gambar yang identik dibuang dulu (interfield compression). Setiap frame kemudian dikompresi dengan cara yang sama seperti format JPEG yaitu metode matematis yang dikenal sebagai DCT (Discrete Cosine Transform). Ini disebut sebagai intraframe compression Dengan memecah frame menjadi ubin-ubin berukuran 16 kali 16 pixel (monobloc), kompresor DCT dapat mencari dan membuang setiap duplicate data, selain juga melakukan quantising (cropping) terhadap nilai-nilai tertentu yang membuatnya lebih kecil.

Setelah semua itu dilakukan, data kemudian disimpan pada MiniDV tape bersamaan dengan audio track, pada kecepatan 25 fps. Metode kompresi ini memungkinkan satu kaset memuat rekaman 60 menit atau lebih.

MPEG2
MiniDV bukanlah satu-satunya digital video format. Dv camera terbaru seperti yang menggunakan DVD-RAM dari Hitachi serta MicroMV menggunakan standar kompresi yang disebut MPEG2. Karena MPEG2 adalah format yang juga digunakan oleh DVD player pada TV anda, format ini tampaknya akan semakin dikenal pada camcoder model-model yang akan datang. MPEG2 menggunakan interfield dan intraframe compression seperti juga MiniDV, tetapi terhadap keduanya menambahkan lagi interframe compression. Ini artinya setiap data yang sama dari suatu frame ke lainnya akan dibuang, hanya elemen gambar yang berubah yang direkam.

Tingkat kompresi juga dapat ditingkatkan walaupun ini dapat mengakibatkan penurunan mutu gambar. Dengan MPEG2 dapat diperoleh kualitas gambar yang setara dengan MiniDV, tetapi dengan ukuran jauh lebih kecil. Kalau memang MPEG2 begitu bagus, mengapa kebanyakan sekarang masih menggunakan MiniDV? Jawabannya adalah secara teknis sangat sulit mengedit MPEG2 video. Begitu banyaknya data yang dibuang pada kompresi MPEG2 membuat file begitu kecil. Dengan adanya interframe compression, hanya beberapa frame pada clip yang memuat sepereangkat data lengkap mengenai gambar, yang lainnya nyaris kosong. Agar dapat dilihat, frame-frame yang tidak lengkap ini harus dibentuk dari frame sebelumnya, yang mengakibatkan editing memerlukan banyak kerja tambahan dan memerlukan prosesor yang lebih cepat. Sebaliknya, frame-frame MiniDV memuat semua data yang diperlukan untuk membentuk gambar, sehingga lebih mudah di-decode dan disesuaikan dalam proses editing.

Inilah yang membuat MiniDV tetap merupakan format terbaik bila anda masih ingin mengedit hasil rekaman anda, bukan sekedar memutar balik saja rekaman itu.
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Belajar Bahasa Inggris